Tibalah kini bagi puisi barangkatkan tiap huruf kami
Puisi
Dimanakah semesta saat aku menatapmu? Hanya hujan yang menampar-nampar muka tak ada tempat berpijak selain gemuruh langit menjelma kaca kita yang retak lara kaca namun kau haus pelangi,seperti katamu muncul sewaktu-waktu dan menyiksakan warna birunya selalu dalam kamus sunyiku Oleh : Helvy Tiana Rossa
Inilah saat yang tepat untuk menulis puisi Berenang engkau dalam wujud asal mu Aku bukan pandai tembikar yang membentuk dirimu Meraih mimpi jalan-jalan di negeri abadi Terikpun datang saat engkau wujud di pangkuanku Malu aku mengaku engkaulah tembikar pilinan jariku Ataukah genta di kuil misteri nun jauh dalam safari dulu Berdenting di tiup angin Jauh, [...]
Tak pernah ku impikan seperti ini datangmu Perkasa denga kuda yang kau pegang kekangnya Dan ia meregang Kakinya Sendiri, Oh binalnya Bagai kilat kau datang membawaku ke senja Ataukah ini Dhuha yang memerah suryanya Apapun Ia, Dhuha kita tak lagi satu Oleh : Ust. Rahmat Abdullah
Bila kutarikan sapuan warna-warni ini Mentari ikut menari Dalam kilau cat air basah di ujung bulu Engkaulah angin itu Yang Datang dan pergi Kadang sepoi basah kadang badai yang lari Menabur warna baru di kanvasku? Oleh : Ust. Rahmat Abdullah




